R. Hamzaiya Walk Out dari Rapat Rumah Sakit Waled: “Tidak Ada Kata Maaf, Hanya Upaya Menyelamatkan Lembaga”

CIREBON — Sorottipikor .com //Audensi yang digelar oleh pihak Rumah Sakit Waled Cirebon terkait dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang dokter residen,Senin 10 Nopember 2025. R. Hamzaiya, S.Hum, selaku perwakilan masyarakat dan pengamat sosial, memutuskan untuk meninggalkan forum atau walk out sebagai bentuk protes moral.

Tindakan itu , ia lakukan setelah melihat bahwa jalannya rapat justru jauh dari nilai-nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab etik yang seharusnya menjadi dasar dalam menangani kasus yang menyangkut martabat manusia.

“Rapat tersebut awalnya diharapkan menjadi ruang klarifikasi dan pencarian solusi yang berpihak pada korban,” terang R. Hamzaiya, S.Hum,.

Namun, sepanjang berlangsungnya diskusi, menurut Hamzaiya, forum justru berubah menjadi ajang pembelaan diri antar lembaga.

Dikatakan Hamzaiya ,tidak ada satu kalimat pun yang menunjukkan rasa penyesalan, apalagi permohonan maaf kepada korban atau keluarganya.

Pihak rumah sakit terkesan lebih memprioritaskan citra lembaga dan mekanisme formal ketimbang membuka kebenaran secara jujur dan transparan.

“Selama rapat, saya tidak mendengar satu kata pun permintaan maaf. Yang saya dengar hanyalah upaya mereka menyelamatkan lembaga masing-masing.

Ini bukan tentang reputasi, ini tentang rasa kemanusiaan. “Tentang bagaimana rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang aman dan bermartabat bagi semua,” ujar Hamzaiya setelah meninggalkan rapat dengan nada kecewa.

Sementara itu, Ia menegaskan sikap para pejabat yang hadir memperlihatkan bagaimana moralitas institusi sering kali dikalahkan oleh kepentingan menjaga nama baik.

Rapat yang seharusnya membahas langkah-langkah konkret penanganan pelecehan seksual justru kehilangan arah moralnya.

Pihak rumah sakit lebih banyak berbicara soal prosedur internal dan mekanisme administratif tanpa menyentuh substansi permasalahan.

Menurut Hamzaiya, hal ini memperlihatkan adanya upaya menutup-nutupi yang hanya memperparah ketidakpercayaan publik.

“Forum itu kehilangan nurani. Semua orang sibuk berbicara soal tata cara dan prosedur, tapi tidak ada yang benar-benar berbicara tentang keadilan bagi korban,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tindakan walk out yang ia lakukan bukan bentuk emosional, melainkan sikap tegas terhadap pola pikir institusional yang gagal menempatkan korban sebagai subjek utama dalam penyelesaian kasus.

Lebih jauh Hamzaiya juga menilai, ketertutupan informasi dan absennya empati dari pihak rumah sakit menjadi sinyal bahwa lembaga ini belum memahami makna tanggung jawab publik.

Dalam konteks sosial, tindakan diam dan pembelaan berlebihan terhadap pelaku justru menimbulkan luka sosial yang lebih dalam.

Ia menyebut, masyarakat berhak mengetahui bagaimana kasus ini ditangani dan apakah pelaku masih diberi akses untuk berpraktik atau menjalankan tugas kedokteran.

Menurutnya, ketika lembaga kesehatan justru melindungi pelaku atau menghindar dari tanggung jawab moral, maka kepercayaan publik terhadap lembaga tersebut akan runtuh.

Rumah sakit bukan sekadar tempat penyembuhan fisik, tetapi juga simbol etika, keadilan, dan kemanusiaan. Ketika nilai-nilai itu diabaikan, maka lembaga kehilangan legitimasinya di mata masyarakat.

“Jangan berpikir masyarakat akan diam. Kami ingin transparansi, kami ingin keadilan. Kalau lembaga hanya sibuk menyelamatkan nama, maka publik yang akan berbicara. Dan suara publik jauh lebih keras daripada rapat-rapat tertutup,” ucap Hamzaiya dengan nada tegas.

Walk out yang dilakukan Hamzaiya menjadi simbol penolakan moral terhadap arogansi institusi yang lebih memilih diam daripada menegakkan kebenaran.

Ia menegaskan, keberpihakan pada korban bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral. Tidak adanya permintaan maaf dari pihak rumah sakit hanya mempertegas bahwa lembaga tersebut lebih sibuk menjaga reputasi daripada memulihkan rasa keadilan.

Tindakan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa masyarakat tidak lagi bisa dibungkam oleh bahasa birokrasi.

Di tengah kasus yang menyangkut pelecehan seksual dan martabat manusia, publik berhak menuntut kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.

Walk out Hamzaiya menjadi bentuk nyata bahwa ada pihak yang masih berani berdiri di sisi yang benar, ketika institusi justru memilih diam demi menyelamatkan diri , ” tutupnya.

Pewarta : ( tim )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *